Kesederhanaan Hakiki

Badai musibah menjatuhkan asaku Lembah-lembah kesedihan telah basah Menetap pada rumah hati yang resah Rintihku pelan dibawah naungan lelah   Kesakitan ini begitu berkecamuk Cucuran air matanya membuat hatiku remuk Tidak ada keterpaksaan yang nyaman Meskipun aku memeluknya dengan ribuan pengorbanan   Hidup itu dinamis Bawalah nama

Jilbab Jingga

Jilbab jingganya menjulur sampai kedada Tubuhnya yang anggun tertutup balutan kain berenda Kilau matanya bagaikan permata diterpa mega Lekuk senyumnya menyelinap masuk kejiwa Wanita yang takut kupandangi berlama-lama Tatapannya yang meneduhkan Mencairkan kebekuan jiwa Menenangkan gejolak asmara Langkahnya pelan Ia tak banyak bicara Berkali-kali aku gagal menemuinya

Tanpa Sakit

Jika hari esok aku telah tiada Jagalah mereka orang-orang yang kucinta Yang tertera pada larik-larik sajak ini Yang kulukis pada bait-bait puisi ini Jika hari esok kehidupanku telah usai Kupercaya dia mampu setabah perisai Saat sukmaku terlepas dari raga Kuyakin dia mampu setenang telaga Jika hari esok

Berbagi Meski Sedikit

Ketika pintu kejora mulai terbuka Saat burung camar terbang kearah utara Matahari menyinari dedaunan desa Embun-embun menetes diatas dahan dan kaca Keputus asaan menghantui anak manusia Tangga nada kehidupan yang tak seirama Senandung rindu yang tak selalu sampai ketuannya Melodi-melodi yang menggetarkan tak pernah ada Kamu boleh

Ketika Ayah Menua

Aksara-aksara terangkai pada kertas lusuh Puisi-puisi kerinduan semakin memperkeruh Tata kehidupan membutuhkannya Dari bibirnya terlontar ribuan nasihat dan cinta   Kepenatan dan lelahnya tersembunyi pada benak seorang ayah Ia mengerti kesulitan tak harus dibagi dengan putrinya Seorang diri batinnya berdoa, berharap hari esok lebih sejahtera Beberapa koin

Ramadhan Penuh Cinta

Cahaya matahari terbit dari lantunan ayat-ayat suci Kehangatan dan ketentraman jiwa kudapati Pada bulan yang penuh rahmat Pahala-pahala berlipat-lipat Lentera kecil menerangi gelapnya hati Sepanjang hari menapaki jalan yang diridhoi Pada sudut surau hijau Asaku menepi pada sukma dan raga Tasbih kecintaan akan sang pencipta menggema Doa-doa

Dalam Ku Sendiri

Telur mata sapi kesukaannya Dalam ku sendiri Kunikmati pagi ini Aku teringat, Perpisahan ditepi taman kota beberapa tahun silam Dia berlinangan air mata Satu-satunya kakak yang kupunya Dia pergi untuk waktu yang lama Meninggalkan aku tanpa kata-kata Sungai mengalir deras dimataku Saat lambaian tangannya mengiringi kepergiannya Dia

Aku Tidak Akan Menduakan-Nya

Kamu masuk pada air mataku Jatuh ditanganku sebagai doa Kamu adalah bagian yang selalu kupinta Jatuh dihatiku sebagai cinta Tatapan matanya yang tak sanggup kulupakan Tapi cerita ini sangat meresahkan Bukan masalah hati Aku sangat berantakan menerima perbedaan Kalung salibnya menggaduhkan jantungku Mengubur dalam-dalam semua mimpiku Membakar

Puisi Islami Kehidupan

Cerita kecil tentang kehidupan Alunan sendu tentang kehilangan Rangkaian puisi tentang kegagalan Rintihan pilu tentang kesakitan Kehidupan adalah misteri masa lalu adalah pelajaran masa depan adalah perjuangan masa sekarang adalah perjalanan kehilangan yaitu tentang keikhlasan Keikhlasan mengajarkan melepaskan Tanpa berburuk sangka terhadap taqdir yang digariskan Pertemuan terbaik

Kenangan

Ladang ketakutan menghampar Terik kecemasan mencekik dan menampar Pandanganku masih samar-samar Sembab dengan tatapan nanar Kemeja putihnya masih kugenggam Harum penuh darah kenangan Satu tahun yang lalu: kebersamaan Nasihatmu masih rapih diingatan Mengapa secepat ini dia kembali? Kemarin, ledakan tawanya masih kunikmati Mengapa secepat ini dia pergi?