Surat Biru

Masih terngiang wajahmu yang rupawan Manis ucapanmu yang mengenang diingatan Tiga tahun telah berlalu Kau belum juga pulang   Rina, sebentar lagi aku akan menikah Akan kubuka lembaran baru yang lebih indah Mungkinkah kamu akan menemuiku? Ataukah kau sibuk dengan kehidupanmu yang baru? Teman lama dipelupuk kenangan

Lembar Baru Kehidupan

Aku bersimpuh dikakinya Wanita yang melahirkanku mempertaruhkan nyawa Kubasuh telapak kakinya yang bearoma surga Rangkaian kalimat maaf kuhaturkan didepannya   Hari raya meleburkan rasa marahku Melunturkan keegoanku Menggenapkan kebahagiaanku Menutup semua kesalah pahaman yang terkekang waktu   Berbondong-bondong sanak saudara mengetuk pintu Menyampaikan sepucuk maaf dengan haru

Kematian

Ketika sang pencabut nyawa datang Jiwaku akan berlumuran ketakutan Memandang dengan penuh kecemasan Ragaku kaku, terbaring pilu mengenaskan   Saat aku benar-benar terlambat Tenggorokanku seakan tersumbat Darah diotakku seakan muncrat Menikam jantungku sangat cepat   Pada hari itu datanglah keluargaku Menangis saat aku tak lagi bergerak Meronta

Aku Yang Lalai

Duri mawar menusuk jemari yang lentik Beberapa helai dikelopaknya berjatuhan, cantik Tak munafik, ini adalah senja yang mempesona Ketika petang nanti adalah tarawih pertama   Nadi-nadi puisi dibulan suci Menepis ambisi melabuhkan permintaan hati Meminta pengampunan Memohonkan kehidupan yang lebih cemerlang   Dzikirku tak musnah dimakan waktu

Berjilbablah

Sehelai kain penutup kepala Bukan untuk mempercantik rupa Atau menambah modis dan idealis Tapi membuat pikiran kritis dan realistis   Jilbab adalah kewajiban Perempuan muslim yang mementingkan ketaatan Berjilbablah siap atau tidak Karena usia tidak bisa kau tebak   Selangkah anak perempuan keluar rumah membuka aurat Selangkah

Getir Kehidupan

Negeri yang membuat resah Mengagungkan jabatan tanpa lelah Kala rakyat kecil diperbudak zaman Menyaksikan fenomena keserakahan   Getir kehidupan mengajarkan kesabaran Menerima tanpa keluhan Lihatlah ribuan orang melakukan penyelewengan Atas kelemahan menahan godaan   Bukankah tipuan setan lebih nyata? Menyulap kotoran menjadi permata Meniadakan nurani Mematikan rasa

Perempuan Dipagi Buta

Ayam berkokok membangunkan anak manusia Mengusap mata yang masih malas terbuka Kejora menampakan jingganya Menyelip melalui dinding kayu rumah tua   Subuh telah tiba Anak manusia masih terlena Memimpikan surga dunia Sedangkan pagi akan berlalu segera   Dia perempuan dipagi buta yang kulihat Melangkah kearah surau disebelah

Sisa Waktu Umurmu

Terbanglah melampaui batas Hingga kau tuai hasil kerja keras Torehkan asamu pada selembar kertas Lalu lembar-lembar berikutnya kau isi dengan totalitas   Mata pena menjadi samurai Mata hati menjadi perisai Kesabaran akan diuji hingga selesai Lalu kapan keikhlasan akan kau mulai ?   Bertasbihlah ketika dunia membuatmu

Keserakahan

Pada ujung mata pisau Ada bayangan tentang harta yang begitu silau Menyakitkan mata hati, menyandera nurani Ribuan keranjang kemewahan akan menumbuhkan rasa iri   Syukurilah apa yang telah kau dapat Sebelum datang padamu para malaikat Jadilah manusia yang bertabiat Menaati agama sesuai syariat   Telah rubuh rasa

Siapa yang akan menolongmu

Siapa yang akan menolongmu Siapa yang akan menyelamatkanmu Saat kuburmu mulai sempit Melilit dan meremas tubuhmu sampai sakit   Rangkaian ingatan tentang dosa diputar Pada siapa kemalanganmu akan diantar Dadamu dihajar Tak bisa berlari apalagi membalas menampar   Siksa berat yang pedih Menjalari sekujur tubuhmu sampai perih